6:55 am - Tue, May 21, 2013

Selamat Pagi

image

Pada sebuah pagi yang itu-itu saja aku menyesap aroma magis bernama rindu.

Kau, yang selalu memuja dalam kejauhan selalu menjadi orang yang pertama mengucapkan ‘selamat pagi’. Tidak pernah tidak. 

Aku masih bercumbu dengan mimpi-mimpi. Kau mendoakan dalam tulusmu tentang hariku yang semoga cerah, tentang hatiku yang semoga bahagia.

Kau, yang sering kuabaikan adalah pengamat paling tangguh. Mengamatiku secara keseluruhan. Mulai dari kopi hingga bangun pagi. Mulai dari benci hujan hingga pengagum hutan. Kau selalu tahu apapun. kau selalu memuja tanpa ampun.

Pesanmu dalam diam adalah rutinitas setiap pagi yang kurindukan. Yang kudamba meskipun tak pernahku utarakan.

Lagi,

jangan pernah berhenti untuk mengirim ‘selamat pagi’.

Karena kau tahu, aku selalu menanti..

5:21 am

Selamat Ulang Tahun, Baba

image

Mungkin baba telah menunggu belasan tahun untuk hari ini. Menunggu aku yang melunak dan dapat menerima dirinya sebagai sosok ayah yang aku sendiri tidak tahu ayah itu apa.

Belasan tahun yang lalu kehadiran baba di hidupku adalah benalu. Mencuri perhatian mama hampir seratus persen. Memberikaan anak-anak yang lain yang hanya akan membuatku menjelma sebagai asing di rumahku sendiri. Aku dan baba tidak pernah bicara. Meski terkadang kami duduk satu meja. Dia hadir sebagai ‘pengganti’ ayah yang aku sendiri tidak tahu ayah itu apa. Baba mencintai mama, mencintai adik-adikku, dan (mungkin) mencintai aku. Hanya saja aku tak pernah membiarkannya mencintaiku. Cintanya kutolak berkali-kali. Mungkin dia patah hati dalam diam. Bagiku dia hanyalah ayah tiri. Kata ‘tiri’ dikonotasikan tidak baik oleh dunia. Dan aku mengamininya.

Aku si keras kepala ini tumbuh dalam kebencian. Penolakan terhadap baba terus berjalan hingga adik terakhirku lahir. Aku mencintai adik-adikku tanpa syarat. Meskipun aku sadar betul bahwa mereka bertiga berasal dari darah baba tapi aku masih tidak bisa ikut serta mencintai baba. Suatu hari aku dan baba bertengkar hebat. Pada saat itulah kulihat mama menjadi perempuan yang nyaris hancur. Dia tersungkur dalam kesedihan tanpa bisa memilih. Mama mencintai aku, tapi juga mencitai suaminya. Tak ada yang dia bela. Sejak saat itu aku dan baba bagaikan dua orang asing. Meski lagi, kamu sering duduk dalam satu meja.

Suatu hari entah tersambar setan mana aku merenung. Merenung kebencian sia-sia yang aku pupuk sendiri bertahun-tahun. Kebencian yang membuat aku patah hati tanpa bisa sembuh. Aku marah kepada ayahku yang menerlantarkan aku belasan tahun. Tapi seharusnya aku tidak melampiaskan kemarahan itu kepada baba yang justru berbaik hati ingin mengisi sepetak ‘lobang’ yang kosong itu. Aku berubah. Atas nama kasih sayang kepada mama dan adik-adikku. Aku mencintai mama dan adik-adik terlalu besar. Mereka mencintai baba tak kalah besarnya. Dan kuputuskan untuk mencintai apa yang mereka cintai. Dengan itu aku belajar untuk menghapus benci.

Baba bukanlah ayah yang sempurna. Dia laki-laki yang sembarangan. Dia besar dijalanan dan tidak berpendidikan. Tapi dengan caranya mencintai anak-anaknya aku tahu kalau dia laki-laki yang luar biasa meski penuh kekurangan. Seumur hidup aku hanya melihat dia menangis satu kali. Itupun saat ayahnya meninggal. Di balik sifatnya yang urakan sekalipun tidak pernah kulihat dia memukul istri dan adik-adikku. Di balik tatonya yang seram tidak pernah kulihat dia sekalipun membentak kami dengan suara keras. Di dalam candanya yang terkadang menyebalkan akhirnya kutahu laki-laki ini layak dicintai. 

Baba tidak pernah menolak jika aku dan adik-adik minta diantra ke sana kemari. Sepagi apapun, selarut apapun dia dengan sigap mengantar kami kemana saja. Dia tidak pernah marah-marah meski mama sering ngomel hal-hal yang nggak penting. Atas semua ini, masih ada alasanku untuk tidak menyayanginya? 

Beberapa minggu yang lalu baba sempat terguncang hebat. Dia tidak bicara langsung kepadaku. Tapi dia mengadu ke mama. Ayah kandungku menelepon setelah 18 tahun raib entah kemana. Hal ini membuat baba terguncang. Dia didera ketakutan kalau-kalau aku akan kembali kepada ayah kandungku. Dalam diam dia takut kehilangan aku yang brengsek ini. Kami memang tidak sering bicara, tapi ternyata baba menyusupkan rasa sayangnya diam-diam kepadaku. Dia tidak pernah bilang ke siapapun kalau aku anak tirinya. Kalau sudah begini masih berhak aku menganggap dia ayah tiri?

Aku tidak pernah terpikir bahwa hari ini akan menulis tentang baba. Belasan tahun lalu baba bukanlah orang penting meski kami sering berpapasan muka di rumah. Kali ini di ulang tahunnya yang ke-59 kuungkapkan semua tentang kamu, ba. Maafkan aku yang baru menerimamu akhir-akhir ini. Terima kasih telah berusaha merebut hatiku dari jauh-jauh hari. Terima kasih telah mencoba untuk tidak berhenti sayang. 

Selamat ulang tahun, baba. 

Padamu aku belajar untuk mencintai laki-laki.

Padamu aku belajar untuk menerima ketidaksempurnaan dengan kasih sayang yang sempurna.

5:38 am - Mon, May 13, 2013

Teruntuk Kamu: #TempatSemuaRindukuTertuju

image

Aku tak sempurna. Aku membuatmu kecewa dalam sakit hati yang parah. Aku memberi luka-luka tak disengaja. Aku mengabaikan semua rindumu. Aku tak membalas semua cinta yang kau beri. Aku terlalu banyak asik dengan sendiri. Aku keras kepala. Aku membuatmu murka. Aku berlari dari pelukmu. Aku membuatmu mati cemburu. Aku melupakanmu saat kau butuh. Aku perempuan brengsek yang tak pernah merasa cukup. Aku yang selalu pergi jauh. Aku yang menebar murka. Aku pembuat amarah. Aku membuatmu sering gila.

Tapi tahukah kamu di dalam semua alpa aku selalu menjadikanmu rumah. Tempat segala rindu menuju. Tempat segala cinta pulang pada satu tempat..

Hatimu.

Masih.

Selalu kamu.

5:34 am - Tue, May 7, 2013

Memoirs

image

Sudah lama sekali sejak terakhir kali nenek bercerita tentang nabi Sulaiman. Dia bercerita tentang istana sang nabi yang lantainya terbuat dari kaca. Bercerita tentang bagaimana Ratu Bilqis terkesima dengan semua yang Sulaiman punya. 

Kali itu seperti biasa, aku dan nenek menghabiskan sore di warung sebelah rumah. Warung kecil yang menjadi ‘istana’ nenek. Di sana dia menghabiskan hari-harinya. Bertemu orang-orang dari mana saja. Nenek selalu duduk di kursi rotan. Di sisi kanannya televisi 14 inci selalu menjadi teman setia. Menjadi sumber pengetahuan yang membuatnya tidak terkungkung dari dunia luar. Di sebelah kanannya tiga buah kaleng aneka ukuran tersusun rapi. Kaleng-kaleng itu berfungsi sebagai tempat uang yang hanya dia yang mengerti fungsinya. Di dekatnya selalu ada remote tv, air minum dan kipas anyaman. 

Suatu sore kami duduk melantai di depan warung. Memerhatikan jalanan sibuk yang menebar debu kurang ajar. Menanti sate langganan lewat sambil bercerita tentang apa saja. Nenek tahu banyak hal. Dia paling suka bercerita tentang 25 nabi dan pengalamannya selama haji. Dia bercerita dari Adam hingga Muhammad. Memaparkan dosa-dosa manusia yang kelak akan dibalas oleh azab api neraka. Aku mengingat beberapa saja dari ceritanya. Nabi Sulaiman dan Yusuf adalah dua nabi yang ceritanya tak mungkin aku lupa. Oh iya, nabi Ayub yang tangguh juga salah satu cerita paling mengagumkan yang pernah keluar dari mulutnya.

Nenek tidak lebih baik membaca Al-Quran dari aku. Tapi tentu dia lebih sering. Saat Ramadhan tiba dia menjadi satu-satunya orang yang menunggu suaraku menggema dari toa mushola dekat rumah. Malam hari aku melakukan tadarus. Mengaji melalui microphone yang bisa didengar semua orang. Nenek akan menanti-nanti giliran aku membaca. Pernah suatu kali mama memergoki nenek berkaca-kaca, terharu karena cucu pertamanya begitu pandai mengaji. Melantunkan satu per satu ayat suci dengan sangat merdu. 

Nenek perempuan religius. Satu hal yang tidak pernah tertular oleh anak dan cucunya. Dulu waktu aku kecil mungkin dia mengira aku bakal jadi ustadzah karena begitu piawai membaca Al-Quran di usia cukup muda. Senyumnya mengembang di hari aku khatam Al-Quran. Waktu itu umurku baru 8 tahun. Pulut kuning dihidang, doa-doa dilantunkan, puji syukur nenek panjatkan. Dan sekarang, aku justru menjadi jauh dari yang diharapkan.

Nenek tidak pernah memaksaku memakai jilbab. Dia juga tidak setuju aku dimasukkan ke pesantren. Di balik dirinya yang religius nenek memiliki hati seluas samudra. Cintanya padaku tak pernah habis. Air matanya yang terus mengalir mengingat cucu kesayangannya tumbuh dalam ketidaksempurnaan layaknya keluarga normal. 

Salah satu hadiah yang paling berharga yang pernah nenek berikan adalah sebuah Al-Quran seukuran telapak tangan yang dia bawa dari Mekkah, hanya untukku. Al-Quran itu masih ada sampai sekarang. Berdiam diri di dalam lemari di posisi paling tinggi. Selain Al-Quran nenek membawakan mainan yang rupa-rupa. Semuanya telah hilang entah dimana. Tapi tentu kenangannya tidak.

Nenek adalah perempuan jelita. Yang (lagi) tidak ada anaknya yang mengadopsi ini. Nenek perempuan yang dingin untuk anak-anaknya tapi tidak untuk cucunya. Nenek mengalami kesakitan yang panjang. Seperti Ayub yang diberi cobaan penyakit-penyakit luar biasa, begitulah nenek menikmati semua penyakit yang menyerangnya bertahun-tahun. Sekalipun dia tidak kehilangan taqwa. Semakin sakit itu mendera, semakin dekat dia dengan Tuhannya. Aku masih ingat saat dia masih bisa berjalan. Begitu semangat menuju sembuh dan bersumpah tidak pernah mau duduk di kursi roda. 

Nenekku, satu-satunya, adalah perempuan yang menanamkan banyak cinta. Tanpanya mungkin aku hanyalah anak kecil yang kurang perhatian. Dia yang mengajari aku menjadi orang yang istimewa. Sejuta penyesalan menerpa ketika sampai nafas terakhirnya dia tidak bisa menyaksikan aku, si kurang ajar ini menjadi sarjana. Doa-doanya masih terdengar jelas sampai sekarang, meski jasadnya mungkin telah lebur bersama tanah.

Nenekku, satu-satunya mengajari aku menikmati setiap rasa sakit dengan bersyukur. Dan sampai akhir hidupnya dia tetap memegang satu keteguhan: Nak, tidak butuh jadi orang sukses, jadilah orang baik.

FYI: Tulisan ini adalah memori acak tentang nenek di kepalaku. Alurnya kacau, sekacau hati penulisnya saat menulis ini. :’)

4:12 am
Aku menamaimu matahari. Menyengat bagai rindu bunga terhadap sinar pagi. Kau menuai hangat yang tak sudah-sudah. Berbisik riang pada angin yang menjadikan musim lebih indah. Siang adalah surga, malam adalah neraka. Kau, menjadikan keterbalikan terasa lebih mudah. Terima kasih telah menjadi ada.
2:33 am - Fri, Apr 26, 2013
1 note

Kotak Penuh Kamu

image

Malam ini aku menunda kantuk. Aku menumpuk kamu dalam sebuah kotak paling sempurna. Menyusun satu demi satu dan menutupnya dengan putus asa. Dengan sedih yang mendera tanpa paksa. Kotak itu ringan, tapi rasa di hati yang terlanjur memar ini memberat. Kuletakkan kotak cokelat kekuningan berbau masa lalu itu di dalam lemari paling dasar, tempat dimana dia sukar terlihat. Bahkan mustahil ditemukan dengan ketidaksengajaan. Sebelum kututup lemari ku pandang kotak yang isinya penuh kamu. Nyeri yang luka kambuh lagi. Tapi kini segala sakit menjelma terlalu sakti untuk ditarik kembali. Kututup lemari. Kubiarkan kotak berisi kamu istirahat di situ, bersama surat-surat cinta yang usang, foto-foto indah yang sekarang malang, bon-bon makan beserta tiket nonton dan perjalanan yang mungkin sekarang sedang meriang. Kutinggalkan lemari yang sekarang memeluk kotak berisi kamu. Walau perlahan kudengar gemerisik di sana. Kenangan mungkin sedang murka. Dan untuk kembali aku tak kuasa. Kini, kamu, kotak dan lemari itu telah lebur bersama waktu. Aku masih ingat kamu, walau cinta sekarang hanya sebaris semu yang terpanggang masa lalu.

#Fiksi

Tulisan ini pertama kali di-posting di Facebook pada 21 Juni 2011

5:39 am - Tue, Apr 23, 2013

Rindu (Lagi)

image

Siang ini kita dipertemukan kalut. Aku sedang tidak enak badan. Kamu sedang tidak enak hati. Siang terik mendadak berkabut..

Aku menatap kamu lekat. Kutemukan sejuta ragu-ragu yang datangnya entah darimana. Badanku panas. Hatimu mungkin juga begitu. Kamu bercerita tentang matahari terbenam kemarin sore yang tidak bisa aku saksikan. Aku bercerita tentang mimpi-mimpi acak yang tidak bisa kutemukan benang merahnya. 

“Aku rindu kamu.”

Sepotong kalimat sederhana itu keluar dari bibirmu yang habis meminum Cola. Aku bingung dalam ekspresi yang biasa saja.

“Rindu? Aku di sini. Dan kita bertemu hampir setiap hari.”

“Aku rindu kamu yang rindu aku.”

Aku diam dalam kaget. Kalimatmu barusan memaparkan segalanya yang tak pernah aku sadari. Aku mungkin mendadak menjadi aku yang lain saat ini. Mengabaikan segala ‘rindu-rinduan’ yang sering kita jabarkan. Matamu menerawang menembus jendela, menembus jalan raya, menembus hatiku yang entah kenapa sekarang kehilangan daya.

“Aku rindu kamu juga.”

“…..”

“Aku rindu kamu yang merindu kita.”

Tak ada kata-kata lain setelah ini. Kita mengakhiri makan siang dalam diam. Tanganku menggenggam tanganmu. Hatiku merengkuh hatimu yang mungkin masih penuh aku.

Siang makin tinggi.

Dan ya, aku rindu kamu. Lagi.

#Fiksi

7:09 am - Wed, Apr 17, 2013

Secangkir Senyum

image

Sore ini kulihat senyummu pada secangkir kopi. Begitu sendu mengapung di balik pekat. Senyum itu tertinggal di dalam cangkir usangku. Membuat rasa kopi menjadi lebih mendebarkan dari sebelumnya.

Aku sering melihatmu tersenyum. Tersenyum pada matahari yang memperkosa siang yang teramat garang. Sering kulirik senyummu yang melengkung seperti sampan. Memberi seumbar sinar pada wajahmu yang sungguh biasa saja. Biasa yang menggoda.

Kali ini tidak lagi kubahas malam-malam penuh cumbu itu. Cukuplah senyum yang menjadi sebuah topik yang diam dalam seribu riak. 

Dan hei, sudahkah aku bilang kalau pada senyummu aku sungguh berkecukupan?

#Fiksi

4:47 am - Tue, Apr 16, 2013

“Aku (Tidak) Cantik”

image

Ini adalah cerita tentang seorang perempuan yang tidak pernah merasa cantik. Dia mengalami krisis kepercayaan diri yang sedari kecil orang-orang sekitar berikan padanya. Gadis kecil itu tumbuh terlambat. Saat para remaja bahagia menyambut tumbuhnya jerawat dan payudara dia masih terpuruk dalam tubuh anak kecil. Masa remajanya terlambat datang. Dan itu adalah kali kesekian dia merasa tidak cantik. Dia merasa berbeda dari gadis remaja yang tubuhnya mulai terbentuk disusul oleh datangnya menstruasi. Gadis kecil itu khawatir bahwa dia tidak pernah normal. Tubuhnya menolak untuk berkembang pada umur semestinya. Meski ibunya bilang itu itu wajar saja.

Umur 7 tahun gadis kecil itu mengalami peristiwa sepele tapi memiliki efek besar pada kepercayaan dirinya seumur hidup. Pada sebuah siang yang terik dia bermain di dekat mushalla bersama dua teman-temannya. Seorang ibu, yang tak lain adalah tetangganya sendiri tiba-tiba berkata: “Si A, cantik sekali, si B cantik nomor dua.” Si ibu tidak menyebutkan namanya, dia menyimpulkan bahwa dia si cantik nomor tiga. Dengan kata lain dia adalah gadis paling jelek di antara temannya tersebut. Meski sekarang dia berpikir bahwa ucapan ibu tersebut adalah gurauan saja, menerima kenyataan sebagai perempuan tidak cantik adalah duka yang cukup membuat trauma.

Gadis itu tidak cantik. Tidak pernah menjadi gadis paling cantik di dalam lingkaran pertemanannya. Tapi meski begitu dia dianugrahi otak yang cemerlang. Oleh karena itu dia tidak pernah diolok-olok di sekolah. Lagian siapa yang berani mengolok-olok anak pintar? 

Masa SMP adalah masa paling mengerikan buat gadis kecil itu. Bayangkan, dia harus berteman dengan orang-orang bertubuh wajar sedangkan pada saat SMP tubuhnya hanya seukuran anak SD. Seragam sekolahnya selalu dibuat ukuran mini. Saat upacara sekolah dia selalu harus berbaris paling depan karena tubuh mininya secara otomatis mengharuskannya demikian. Begitu juga di kelas, gadis itu harus duduk paling depan, posisi duduk paling tidak menyenangkan karena pandangan guru akan selalu tertuju padamu. Anak gadis itu seperti dikutuk. Dikutuk untuk menjadi manusia mini yang tidak menarik. Tidak seorangpun anak laki-laki yang mengajaknya berbicara. Tubuh kecil dan hitam tidak cukup menarik untuk laki-laki remaja. Olok-olok datang silih berganti meski pada akhirnya banyak yang sadar bahwa dalam tubuh mini ini terkandung pemikiran yang besar. Lagi, tidak ada yang berani mengolok-olok anak pintar.

Tidak ada yang pernah mengatakan anak gadis itu cantik hingga SMA. Di rumah mungkin dia adalah anak gadis paling jelita. Tapi pujian dari keluarga tentulah tak bisa dipercaya. Ketidakpercayaan diri menyebabkan gadis itu tidak pernah punya pacar hingga SMA. Dia tidak peduli. Baginya saat itu menunggu pacar bukanlah yang terpenting. Menunggu menstruasi lebih penting dari itu. Lagian lelaki mana yang mau dengan perempuan berdada rata dan bervagina tanpa sel telur normal?

Dan akhirnya, saat itu datang. Menstruasi bajingan yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Sialnya anak gadis itu telah kehilangan antusiasmenya menyambut sang bulan. Lagian dia telah berbohong bertahun-tahun pada banyak orang. Orang-orang mengetahui dia telah menstruasi waktu kelas dua SMP. Dia juga telah emakai pembalut layaknya orang menstruasi hanya untuk mengibuli teman-temannya. Kedatangan menstuasi yang terlambat dia kunci rapat-rapat sambil mengucap syukur pada Tuhan yang telah mengabulkan doanya meski telat.

Dia masih  tidak pernah merasa cantik meski seorang lelaki pertama berkata begitu. Dia tidak pernah merasa cantik meski lelaki itu menciumnya berkali-kali. Lelaki pertama, lelaki kedua sampai ketujuh tak pernah sekalipun alpa mengatakan kalau dia cantik. Tapi sialnya dia sendiri tidak pernah percaya. Dia tidak pernah merasa cantik karena menurutnya cantik bukanlah kata sifat yang melekat pada dirinya sedari lahir. Mereka hanya memuji untuk membuatku senang. Begitulah yang selalu gadis itu percayai.

Gadis itu kini sudah dewasa. Satu, dua orang masih saja memuji dia cantik. Dia masih saja tidak mau percaya dalam ketidakpercayaan yang menyakitkan.

“Tidak ada yang menganggap perempuan kecil, hitam, bergigi jarang dan berhidup besar itu cantik.”

Sepotong kalimat itu terpatri jauh di sanubari. Menari-nari menebar racun mematikan yang menjelma krisis kepercayaan diri parah bertahun-tahun. Beberapa orang mencoba menyembuhkan. Tapi apa yang terjadi sedari kecil (dan beberapa hal yang tidak dipaparkan di sini) menjadikannya sulit untuk menerima kenyataan bahwa: aku tidak jelek.

3:51 am - Mon, Apr 15, 2013
8 notes
fckyeahantm:

Annaliese Dayes | Cycle 18

fckyeahantm:

Annaliese Dayes | Cycle 18

Install Headline