Matahari dalam Secangkir Kopi
Ernest mematung memandangi ampas kopinya yang terlihat mengenaskan. Di cuaca berhujan seperti ini, kehangatan bisa dinikmati dari kopi. Dan Ernest melakukan pelarian dengan cara yang sama. Kopi pengusir sepi.
Patah hati dua bulan lalu membuatnya kehilangan berat badan 3 kilogram. Bukan karena dia lupa atau mengabaikan waktu makan, tapi rasa sakit menggerogoti berat badan, menjadikannya 5 tahun lebih tua dari umur sebenarnya. Tak ada lagi binar pada sepasang matanya yang cokelat. Yang ada hanya gumpalan bola yang menyerupai genangan lumpur. Dan wajah matahari yang bersinar dulu, kemana perginya? Kekasih hatinya membawa pergi semua cahaya Ernest, meninggalkan luka yang hampir bernanah. Dan kini, hanya ada sisa kopi yang mungkin paling setia. Menemani sore Ernest di tengah hujan yang tak ramah.
Ernest masih ‘sibuk’ mengamati ampas kopi yang menurut kita sama sekali tak indah. Dia mereka-reka apakah gumpalan ampas ini menyerupai peta Australia, tempat sang mantan pernah mengemban bangku kuliah. Oh tidak-tidak, di lihat dari sudut pandang berbeda ampas kopi ini lebih mirip dengan hati yang setengah. Sama seperti perasaannya sekarang yang seperti hampa. Ernest masih memutar-mutar cangkir kopinya. Mengamati ampas kopi yang kini tampak lebih menjijikkan dari sebelumnya. Dengan konsentrasi penuh dia mencoba menemukan bentuk konkret dalam abstrak bubuk kopi basah. Tak ada senyum. Wajahnya menegang, alisnya menyatu dan tangannya memutar berusaha menemukan bentuk yang entah apa. Ernest mencari-cari masa lalu dalam ampas kopi. Kesedihan memnyebabkannya lupa diri. Sebuah pelarian yang menyedihkan. Sebegitu luar biasanyakah seseorang yang meninggalkan Ernest, sehingga kesedihan tak tahu lagi dimana dituang. Sampai ampas kopi pun jadi sasaran.
2 jam.
3 jam.
Ernest masih begitu. Sampai saat matanya tertuju pada sepasang manusia yang secara tak sengaja melintas cekikikan di hadapannya. Membuat matanya terbelalak, dan genangan air pada matanya satu-persatu tumpah. Sebegitu dasyatnya pemandangan itu sampai cangkir berisi ampas yang sedari tadi menyita perhatiannya mendadak jatuh. Menyisakan bunyi riuh yang tak asik. Ernest masih memaku dalam keterkejutan maha dasyat. Duduk di antara rasa sakit yang menghantui. Andrea, melintas dengan kekasih barunya. Mengabaikan Ernest yang terselubung patah hati. Mengabaikan kekasih yang dipujanya dulu hanya karena sibuk dengan cinta yang baru.
Ernest tersadar saat Andrea menghilang dari pandangan. Dia memungut pecahan-pecahan cangkir. Memungut ampas-ampas yang berserakan. Diletakkannya di atas meja, diamatinya dengan seksama. Senyumnya tiba-tiba merekah. Sebelum pergi dia mengabadikan pecahan cangkir dan ampas-ampas itu dengan kamera hapenya.
Malam telah berakhir. Tapi matahari terbit dalam langit yang berbeda.
#Cangkir dan ampas itu berbentuk matahari. Sama seperti senyum Ernest yang terbit. Terbit seiring perasaannya yang rela akan rasa sakit yang memudar.
#Posted in instagram. 2332 likes.
#Fiksi












