7:01 am - Thu, May 31, 2012

Matahari dalam Secangkir Kopi

Ernest mematung memandangi ampas kopinya yang terlihat mengenaskan. Di cuaca berhujan seperti ini, kehangatan bisa dinikmati dari kopi. Dan Ernest melakukan pelarian dengan cara yang sama. Kopi pengusir sepi.

Patah hati dua bulan lalu membuatnya kehilangan berat badan 3 kilogram. Bukan karena dia lupa atau mengabaikan waktu makan, tapi rasa sakit menggerogoti berat badan, menjadikannya 5 tahun lebih tua dari umur sebenarnya. Tak ada lagi binar pada sepasang matanya yang cokelat. Yang ada hanya gumpalan bola yang menyerupai genangan lumpur. Dan wajah matahari yang bersinar dulu, kemana perginya? Kekasih hatinya membawa pergi semua cahaya Ernest, meninggalkan luka yang hampir bernanah. Dan kini, hanya ada sisa kopi yang mungkin paling setia. Menemani sore Ernest di tengah hujan yang tak ramah. 

Ernest masih ‘sibuk’ mengamati ampas kopi yang menurut kita sama sekali tak indah. Dia mereka-reka apakah gumpalan ampas ini menyerupai peta Australia, tempat sang  mantan pernah mengemban bangku kuliah. Oh tidak-tidak, di lihat dari sudut pandang berbeda ampas kopi ini lebih mirip dengan hati yang setengah. Sama seperti perasaannya sekarang yang seperti hampa. Ernest masih memutar-mutar cangkir kopinya. Mengamati ampas kopi yang kini tampak lebih menjijikkan dari sebelumnya. Dengan konsentrasi penuh dia mencoba menemukan bentuk konkret dalam abstrak bubuk kopi basah. Tak ada senyum. Wajahnya menegang, alisnya menyatu dan tangannya memutar berusaha menemukan bentuk yang entah apa. Ernest mencari-cari masa lalu dalam ampas kopi. Kesedihan memnyebabkannya lupa diri. Sebuah pelarian yang menyedihkan. Sebegitu luar biasanyakah seseorang yang meninggalkan Ernest, sehingga kesedihan tak tahu lagi dimana dituang. Sampai ampas kopi pun jadi sasaran.

2 jam.

3 jam.

Ernest masih begitu. Sampai saat matanya tertuju pada sepasang manusia yang secara tak sengaja melintas cekikikan di hadapannya. Membuat matanya terbelalak,  dan genangan air pada matanya satu-persatu tumpah. Sebegitu dasyatnya pemandangan itu sampai cangkir berisi ampas yang sedari tadi menyita perhatiannya mendadak jatuh. Menyisakan bunyi riuh yang tak asik. Ernest masih memaku dalam keterkejutan maha dasyat. Duduk di antara rasa sakit yang menghantui. Andrea, melintas dengan kekasih barunya. Mengabaikan Ernest yang terselubung patah hati. Mengabaikan kekasih yang dipujanya dulu hanya karena sibuk dengan cinta yang baru. 

Ernest tersadar saat Andrea menghilang dari pandangan. Dia memungut pecahan-pecahan cangkir. Memungut ampas-ampas yang berserakan. Diletakkannya di atas meja, diamatinya dengan seksama. Senyumnya tiba-tiba merekah. Sebelum pergi dia mengabadikan pecahan cangkir dan ampas-ampas itu dengan kamera hapenya. 

Malam telah berakhir. Tapi matahari terbit dalam langit yang berbeda.

#Cangkir dan ampas itu berbentuk matahari. Sama seperti senyum Ernest yang terbit. Terbit seiring perasaannya yang rela akan rasa sakit yang memudar.

#Posted in instagram. 2332 likes.

#Fiksi

6:34 am
Perempuan yang kuat adalah mereka yang bertahan di tengah pahitnya kejujuran, di antara kebohongan yang melenakan. @PerempuanThicka
6:09 am

Kepada Peluk

Ada dua hal yang bisa menghasilkan senyum lebar untuk saya, pertama kopi, kedua sebuah pelukan yang ‘layak’.

Untuk yang pertama saya memang sudah jatuh cinta sejak lama. Jauh sebelum saya jatuh cinta pada hati manapun. Jauh sebelum saya mengenal rindu, cium, peluk dan tetek bengek yang mendukung itu. Dan yang kedua adalah peluk. Jujur, saya bukanlah seorang ‘tukang peluk’ yang baik. Rutinitas memeluk dan dipeluk adalah sebuah kegiatan yang jarang. Langka. Maklum, saya dibesarkan dengan tidak memupuk budaya peluk-memeluk tadi. Berpelukan dengan saudara sendiri saja mungkin bisa dihitung dengan jari. 

Semuanya berbeda saat kamu datang. Si pemuja peluk yang sepertinya mengartikan bahwa peluk adalah sesuatu yang penting. Dan pada akhirnya saya mengerti. Peluk mentransfer sebuah perasaan nyaman antara dua orang. Memberi hangat dan kadang menguatkan. Kamu memproduksi peluk yang banyak untuk saya. Yang menyebabkan saya mencandu. Dan kamu tak akan berhenti sampai mendapatkan sebuah balas dari peluk yang ‘layak’. Layak di sini artinya bukan sekedar peluk bas-basi yang dilakukan dua orang asing saat bertemu, atau pelukan antara dua teman lama yang lama tak berjumpa. Peluk secara layak adalah ketika kedua belah pihak berhasil merasa nyaman, hangat dan ujung-ujungnya melahirkan seutas senyum. Senyum yang mungkin berarti tak sabar untuk melakukan peluk yang selanjutnya.

Kepada peluk, 

Saya menanti pertemuan selanjutnya.

#Fiksi

6:17 am - Tue, May 29, 2012
U ❤ I

U ❤ I

6:16 am
Michael Fassbender

Michael Fassbender

8:46 am - Mon, May 28, 2012

Hujan

Selalu ada rahasia di balik hujan. Dan rahasia itu mengantarkan kamu padaku, memberi cinta yang baru, memberi rasa-rasa yang mengaliri hati. Berhenti pada sebuah peluk yang tanpa birahi.

Langit sedang boros. Menghadiahkan kita air yang terlampau banyak, menebar dingin, memperparah ingin. Hatiku sedang beku, sampai di menit-menit ketika kau datang dengan sepasang sayap yang tak kelihatan. Merangkulku tanpa gesa. Tanpa dosa.

“Kamu selalu tahu saat aku butuh.”

“Aku selalu ingin dibutuhkan.”

Dan percakapan bergulir mulai dari matahari sampai senja yang turun diam-diam. Mulai dari surga sampai malam yang tak dihadiahi bulan. Mulai dari rinduku atas aromamu sampai dengan kesukaanmu memainkan rambutmu. Kita larut dalam kita. Hujan tinggal sia-sia. Basah hanya sisa-sia.

#Fiksi

7:33 am
220 notes
6:55 am
962 notes
6:06 am
8,709 notes

My Man 

(via fuckyeahbradleycooper)

5:38 am
1,384 notes
fuckyeahmcgosling:

05/50 pictures of Ryan Gosling

fuckyeahmcgosling:

05/50 pictures of Ryan Gosling

Following
Likes
More Likes
Install Headline